BLOG POSTS

12 May 2015

shutterstock_229522918

Ngobrol Bareng Drivernya Uber Taksi

Pertama, sebelum saya mulai. Ada disclaimer dari saya, yaitu tulisan ini tidak akan menjadikan pembaca terinspirasi atau termotivasi. Tidak akan mengajak dan mempengaruhi pembaca untuk melakukan sesuatu. Hanya sekedar sharing pengalaman saya. Jadi, tenang aja. Konsekuensi terberat dari membaca artikel ini, ya nama Uber semakin terkenal, atau kalau ada dari perusahaan taksi lokal yang baca, mungkin aja mereka mau membuat sistem “mirip” Uber. Hehe.

Tepatnya 1 Mei 2015 atau yang biasa disebut MayDay yang lalu, sekitar pukul 23.00 WIB, saya dan beberapa orang teman selesai menonton SUCI (Stand Up Comedy Indonesia) 5 show 9 di Balai Kartini, Jakarta. Berhubung sudah larut malam, dan kami tidak yakin apakah Trans Jakarta masih beroperasi atau tidak, kami akhirnya memutuskan untuk naik taksi. Nah, satu masalah selesai, masalah berikutnya muncul. Taksi biasanya hanya mau menerima maksimal empat orang penumpang, sedangkan kami yang akan pulang ke Depok jumlahnya lima orang.

Lalu salah satu teman saya (diluar kami berlima yang dari Depok) bilang, “Udah, kalian naik Uber aja”. Disitu saya bingung, saya berpikir sebentar, “Uber… Oh, Uber Taxi kali ya maksudnya”. Sepertinya saya pernah dengar kalau Uber itu mobilnya kalau bukan Avanza, ya Innova, jadi untuk menampung kita berlima, seharusnya cukup lah.
Oke, sebelum saya lanjut ceritanya, saya akan sedikit menjelaskan tentang Uber. Seakan saya yang paling ngerti gitu ya, aseek. Ada yang pernah dengar “Uber, the world’s largest taxi company, owns no vehicles”?

Nah! Unik, kan? Bagaimana bisa perusahaan taksi tapi gak punya taksi?

Kalau menurut id.wikipedia.org, “Uber adalah perusahaan rintisan (start up) dan perusahaan jaringan transportasi asal San Francisco, California, Amerika Serikat yang menciptakan aplikasi bergerak yang menghubungkan penumpang dengan supir kendaraan sewaan serta layanan tumpangan.”

Cuma gini aja nih penjelasannya? Hehe. Oke, lanjut ya.

Pada saat itu sebenarnya saya masih zonk, belum paham tentang Uber, tapi tanpa disadari sepertinya teman saya sudah melakukan reservasi untuk kami via Aplikasi Android-nya Uber dan tiba-tiba dia bilang “Nih, nomor HP driver-nya”. Waduh! Saya masih bingung, lalu dia bilang lagi “Telepon nih!”. Seolah-olah baru tersadar, secara refleks saya mau telepon Si driver dengan Smartphone yang saya punya. Tapi kemudian saya sadar ternyata smartphone saya gak ada pulsanya, wakakakaka. Akhirnya saya ambil HP keren dengan fitur yang gak semua orang punya: senter (baca: Nokia 1280) lalu menelpon driver-nya.

Tanpa basa-basi saya langsung tanya, “Uber ya pak? sekarang di Balai Kartini”.

Lalu bapaknya jawab “Mau lewat depan apa lewat samping, Mas?”

Karena saya bingung, jadi saya tanya ke yang lain, “Bapaknya bilang mau lewat depan apa lewat samping?” dan dijawab “Suruh masuk aja”.

Berhubung pintu masuk Balai Kartini itu dari samping, ya sudah saya jawab saja, “dari samping aja pak”. Lalu teman saya yang pesan Uber ini bilang, “Tanyain Plat nomornya!”

Langsung saya tanya “Plat nomornya berapa pak?”, lalu Si Bapak memberi tahu saya plat nomornya.

Setelah itu, teman saya yang pesan Uber ini pulang duluan, dan bilang kalau nanti dia yang bayar pakai “kredit”-nya dia yang ada di Uber.

Beberapa menit kemudian muncul deh mobil dengan plat nomor tersebut, saya lupa tipenya Avanza atau Innova. Setelah itu kami langsung naik. Tiba-tiba teman saya ditelepon oleh teman saya yang memesankan Uber tadi, dan langsung menyodorkan hp-nya ke saya. “Udah gue pesenin sampe Depok ya, ntar lu turunnya disekitar Margonda aja”, padahal niat kami hanya sampai Stasiun Cawang saja, karena jam segitu kereta masih ada. Lalu dia bilang lagi, “Kredit gue gak cukup nih kalo sampe Depok, jadi lu patungan aja bareng yang lain, ntar duitnya lu suruh si Ridho transfer ke gue”, telepon pun ditutup. Kemudian saya jelaskan ke teman-teman yang lainnya.

Saat itu, salah satu teman saya melihat iPhone yang ada di mobil itu dan di layarnya menunjukkan tujuan kami, yaitu ke Margonda, Depok. Kami berdiskusi sejenak, dan memutuskan untuk turun di Stasiun Cawang saja. Saya memakai hp salah satu teman saya, dan menelepon teman saya yang memesankan taksi tadi untuk mengatakan bahwa kami turun di Cawang saja.

Hanya sebentar saja, tiba-tiba salah satu teman saya memberi tahu lagi bahwa tujuannya kita sudah diubah di aplikasinya, dari Margonda ke Stasiun Cawang. Nah, setelah ini baru saya tanya2 ke bapak supir tentang Uber.

Saya mulai bertanya tentang bagaimana caranya menjadi driver Uber. Tadinya, saya pikir kalau mau jadi driver Uber, ya tinggal daftar saja ke Uber-nya dengan kendaraan sendiri. Eh, ternyata jawaban bapaknya berbeda. Pertama, kalau mau jadi driver-nya, kita harus melamar pekerjaan ke CV atau PT yang bekerja sama dengan Uber. Uber merangkul CV atau PT yang memang sudah menyediakan mobil. Jadi, mobilnya bukan dari kita sendiri, melainkan milik CV atau PT tempat kita mendaftar.

Lalu saya bertanya apa saja syarat untuk mau jadi driver di CV atau PT tersebut. Dia menjawab, kalau hanya butuh SIM dan SKCK yang masih berlaku. Lalu, kok mau ya CV atau PT ini kerja sama dengan Uber? Mungkin karena namanya sudah besar di luar sana, sudah lebih terkenal kali ya. Uber memang menargetkan pasarnya ke orang-orang menengah ke atas. Ini terlihat dari sistem pembayarannya yang mewajibkan penggunaan CC (credit card).

Oke kembali ke bapaknya lagi ya. Setelah kita punya SIM dan SKCK, lalu melamar di CV dan PT tersebut, selanjutnya kita akan di-training. Saya tidak bertanya jelasnya seperti apa, tapi menurut saya training-nya seputar SOP di CV atau PT tersebut dan SOP si Uber dan juga cara pemakaian aplikasinya.

Kemudian Si Bapak cerita lagi, Uber membuat sistem ini untuk menciptakan kenyamanan bagi pelanggannya. Ini terlihat jelas pada saat pertama kali masuk ke dalam kendaraannya. Interiornya terasa lebih nyaman, disediakan kotak tisu dan se-toples permen. Ga tau ya apa ini cuma sugesti saja, biasanya saya tidak pernah berhubungan baik dengan kendaraan roda empat. Bawaannya pengen muntah aja kalau duduk di dalamnya. Tapi waktu itu, rasanya sangat nyaman, hehe. Selain itu, Uber memiliki jenis mobil yangvlebih banyak, dan beberapa jenis itu ada yang dapat menampung kapasitas yang banyak. Lalu, menurut bapak driver lagi, Uber biayanya lebih murah, nah kalau ini saya kurang tahu ya, yang bayar kan bukan saya, hehehe. Menurut teman saya kita gak perlu menyediakan uang untuk tol dan parkir. Kala memang lebih murah, wah kalah sudah taksi lokal!

Uber juga memfasilitasi keamanan bagi customer-nya. Setiap driver dan mobilnya pasti memiliki satu device. Tentu saja dengan ini admin Uber bisa mengetahui dimana posisi pelanggannya. Dan apabila terjadi masalah, Uber memiliki data driver dan mobil yang lengkap. Kan akhir-akhir ini banyak tuh terjadi tindak kriminal di dalam taksi.

Mengenai operasionalnya, selain mobil dan driver, CV dan PT tersebut tentunya harus menyediakan bensin dan uang makan untuk drivernya. Sedangkan dari pihak Uber menyediakan device dan sistemnya. Kalau menurut bapak driver, iPhone yang ada di mobil itu tidak bisa dipakai untuk yang lain-lain. Jadi Cuma menjalankan aplikasi Uber khusus driver saja. Bentuk tampilannya juga hanya peta dan ditambahkan pin lokasi tujuan. Kalau menurut bapak driver, aplikasinya hanya bisa menerima input dari customer, seperti saat teman saya memindahkan lokasi tujuannya dari Margonda Depok ke Stasiun Cawang.

Jadi, tebakan saya nih ya (berhubung bukan saya yang pakai, jadi cuma nebak-nebak), cara pakai Uber Taxi itu, kita melakukan reservasi via aplikasi Uber dengan memasukkan lokasi tujuan. Kemudian dapat nomor telepon driver, dan telepon drivernya, dan bilang minta dijemput dimana. Sekalian juga tanya plat nomor mobilnya. Lalu tinggal bayar deh pakai kartu kredit melalui aplikasi juga.
Selain di Jakarta, menurut bapaknya lagi, Uber sudah ada di Bali, dan mungkin di Surabaya, Bandung, atau Sumatera akan ada juga. Yang berbeda dari Uber di luar itu, kita bisa jadi driver-nya tanpa perlu CV atau PT, ini kata bapaknya, lho. Saya sih masih belum tahu kenapa, dan apakah di Indonesia kita bisa jadi driver langsung tanpa CV dan PT.

Jadi begitulah cerita yang bisa saya share. Gak banyak kan? Hehehe. Jarak dari Balai Kartini ke Stasiun Cawang kan dekat, jadi ketika sampai di tujuan, ketika itu pula obrolan saya dengan bapaknya berakhir, dan berakhir pula cerita ini. Hahaha.

Gatra Nugraha
Gatra Nugraha

Latest posts by Gatra Nugraha (see all)