[Free Download] Template Business Requirements Document (BRD) dalam Proyek IT

Business Requirements Document (BRD) software development project
Contents

Share the article

Contents

Business Requirements Document (BRD) adalah dokumen yang mendefinisikan kebutuhan bisnis dari sebuah proyek: masalah yang ingin diselesaikan, hasil yang diharapkan, ruang lingkup, dan kriteria keberhasilannya. BRD disusun sebelum solusi teknis dibahas, lalu menjadi acuan bersama antara pemilik bisnis dan tim pengembang sepanjang proyek berjalan. Di halaman ini Anda bisa mengunduh template BRD gratis yang BADR pakai sebagai kerangka awal di proyek klien, lengkap dengan catatan pemandu cara mengisinya.

Template dan panduan ini paling relevan untuk Business Analyst, Project Manager, dan pemilik inisiatif digital di perusahaan menengah-besar yang sedang menyiapkan proyek pengembangan software, baik dikerjakan tim internal maupun bersama vendor.

Satu hal yang perlu diluruskan sejak awal: kebanyakan BRD tidak gagal karena formatnya salah. Riset McKinsey tentang proyek IT skala besar mencatat rata-rata pembengkakan biaya hingga 45 persen dari anggaran awal, dan penyebab yang paling sering berulang adalah kebutuhan yang tidak pernah benar-benar disepakati. Dokumennya boleh jadi ada; kesepakatannya yang sering tidak ada.

Apa Saja Isi Business Requirements Document yang Efektif

Struktur BRD bisa berbeda antar organisasi, tetapi enam elemen ini hampir selalu ada di BRD yang benar-benar dipakai sebagai alat kerja:

  1. Latar belakang proyek: konteks dan alasan proyek ini perlu ada, ditulis dalam bahasa bisnis, bukan bahasa sistem.
  2. Tujuan bisnis yang terukur: bukan “meningkatkan efisiensi”, melainkan target spesifik seperti memangkas waktu rekonsiliasi dari lima hari menjadi satu hari.
  3. Ruang lingkup dan batasannya: apa yang termasuk, dan sama pentingnya, apa yang secara eksplisit tidak termasuk.
  4. Persyaratan bisnis: daftar kebutuhan fungsional dan non-fungsional dari sudut pandang bisnis, dengan prioritas yang jelas.
  5. Stakeholder (Pemangku kepentingan): siapa yang terdampak, siapa yang memberi masukan, dan siapa yang berhak mengambil keputusan akhir.
  6. Kriteria keberhasilan: metrik yang akan dipakai untuk menyatakan proyek berhasil, disepakati sebelum pengembangan dimulai.

Ukuran praktis yang bisa Anda pakai: BRD yang efektif bisa dibaca dalam 30 menit oleh orang yang tidak ikut menyusunnya, dan orang itu mampu menjelaskan ulang tujuan proyek tanpa salah tangkap. Template di halaman ini mengikuti struktur enam elemen tersebut.

BRD vs SRS: Di Mana Batasnya

BRD menjawab pertanyaan mengapa proyek ini ada dan apa yang dibutuhkan bisnis. SRS (Software Requirements Specification) menerjemahkan jawaban itu menjadi bagaimana sistem harus berperilaku: spesifikasi fitur, aturan validasi, sampai kebutuhan performa. Pemisahan peran ini sejalan dengan standar ISO/IEC/IEEE 29148 tentang requirements engineering, yang membedakan kebutuhan di tingkat bisnis, pengguna, dan sistem.

Urutannya penting: BRD disepakati dulu, baru SRS disusun di atasnya. Pengalaman kami menunjukkan bahwa ketika keduanya ditulis oleh orang yang sama tanpa review terpisah, salah satunya hampir selalu berakhir sebagai formalitas. Jika tim Anda sudah sampai di tahap spesifikasi teknis, kami sudah menyusun panduan menyusun dokumen SRS sebagai kelanjutan langsung dari dokumen ini.

Mengapa BRD Penting?

BRD adalah dokumen strategis yang menjembatani komunikasi antara pemangku kepentingan bisnis dan tim teknis. Berikut adalah beberapa alasan mengapa BRD sangat penting:

  • Penyelarasan Tujuan: BRD memastikan bahwa semua pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan dan hasil yang diharapkan dari proyek sehingga mengurangi potensi kegagalan proyek
  • Panduan Pengembangan: BRD memberikan arahan yang jelas bagi tim pengembang, mengurangi risiko miskomunikasi yang dapat menyebabkan kegagalan proyek. Hal ini dapat menghemat biaya yang terkait dengan permintaan perubahan, pelatihan, infrastruktur, dan lainnya.
  • Pengelolaan Perubahan: Dengan adanya BRD, setiap perubahan dalam proyek dapat dievaluasi dengan lebih baik, apakah masih sejalan dengan tujuan bisnis atau tidak. 
  • Dokumentasi Resmi: BRD berfungsi sebagai dokumen resmi yang dapat dirujuk sepanjang proyek berlangsung, membantu menjaga proyek tetap pada jalurnya.

Tantangan dalam Pembuatan BRD

Walaupun BRD sangat penting, proses pembuatannya tidak selalu mudah. Beberapa tantangan yang sering dihadapi adalah:

  • Kebutuhan yang Tidak Jelas: Jika kebutuhan bisnis tidak didefinisikan dengan baik, BRD menjadi kurang efektif.
  • Keterlibatan Pemangku Kepentingan: BRD memerlukan masukan dari berbagai pemangku kepentingan. Kurangnya partisipasi dapat mengakibatkan BRD yang tidak komprehensif.
  • Perubahan yang Cepat: Lingkungan bisnis yang dinamis dapat mengakibatkan perubahan kebutuhan, yang memerlukan revisi BRD secara berkala.

Cara Membuat User Story Berdasarkan BRD

User story adalah salah satu alat untuk mendeskripsikan hasil diskusi kita dengan stakeholder. Dengan kata lain, user story adalah catatan tertulis dari percakapan kita dengan user yang kemudian menjelaskan satuan fitur terkecil dan paling spesifik yang ingin dikembangkan. Membuat User Story dari BRD melibatkan beberapa langkah yang memastikan kebutuhan bisnis diterjemahkan ke dalam fitur atau fungsi yang dapat diimplementasikan oleh tim pengembang. Berikut ini adalah langkah-langkah untuk membuat User Story berdasarkan BRD:

  1. Identifikasi Aktor Utama
    Tentukan siapa saja pengguna utama atau aktor yang terlibat dalam proyek, sesuai dengan pemangku kepentingan yang telah diuraikan dalam BRD.
  2. Pahami Kebutuhan Bisnis dari BRD
    Tinjau dan pahami persyaratan bisnis yang ada di BRD. Fokus pada apa yang diinginkan oleh setiap aktor dari sistem.
  3. Definisikan Tujuan User Story
    Berdasarkan kebutuhan bisnis, identifikasi tujuan spesifik yang ingin dicapai oleh pengguna. Pertanyaan yang diajukan: “Apa yang ingin dicapai pengguna melalui fitur ini?”
  4. Tulis User Story
    Susun User Story dengan format standar: “Sebagai [aktor], saya ingin [tujuan] sehingga [manfaat].” Pastikan User Story singkat dan jelas, serta fokus pada satu fungsi atau fitur.
  5. Tambahkan Kriteria Penerimaan
    Tentukan kriteria penerimaan untuk setiap User Story. Kriteria ini berfungsi sebagai indikator bahwa User Story telah berhasil diimplementasikan sesuai dengan kebutuhan bisnis dalam BRD.
  6. Prioritaskan User Story
    Berdasarkan urgensi dan nilai bisnis yang tercantum dalam BRD, prioritaskan User Story untuk pengembangan. Fokus pada User Story yang memberikan dampak bisnis terbesar.
  7. Validasi dengan Pemangku Kepentingan
    Tinjau kembali User Story dengan pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa setiap kebutuhan bisnis dalam BRD telah tercakup dan dipahami dengan baik.

Tips dalam Membuat BRD

Menulis dokumen persyaratan bisnis (BRD) yang efektif adalah langkah krusial dalam memastikan kesuksesan proyek. BRD yang disusun dengan baik tidak hanya membantu mengartikulasikan kebutuhan bisnis secara jelas, tetapi juga meminimalkan risiko kesalahpahaman dan ketidaksepakatan di antara para pemangku kepentingan. Untuk mencapai hal tersebut, berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu Anda dalam menyusun BRD yang komprehensif dan dapat diandalkan.

  • Gunakan kata-kata yang mendorong tindakan: Ada beberapa cara untuk mendorong tindakan melalui penggunaan kata-kata, termasuk menggunakan jargon sederhana dan mudah dipahami.
  • Libatkan orang lain: Dorong orang lain untuk terlibat dalam aktivitas seperti brainstorming, focus group, wawancara, survei, dan ide-ide untuk pembuatan prototipe.
  • Lakukan riset: Teliti proyek-proyek sebelumnya untuk menentukan kelayakan BRD Anda. Evaluasi proyek Anda untuk memastikan apakah itu tahan terhadap pemeriksaan ketat.
  • Sertakan visual: Sertakan visual, seperti grafik dan diagram jika diperlukan, karena mereka dapat sangat efektif dalam menyampaikan maksud Anda.
  • Validasi isi dokumen: Setelah menulis dokumen persyaratan bisnis, mintalah dokumen tersebut untuk ditinjau sebelum distribusi. Dapatkan validasi atas informasi dan isinya, termasuk asumsi-asumsi yang ada, dan pastikan semua kesalahan atau kelalaian telah diperbaiki.

Kesimpulan

Business Requirements Document (BRD) adalah pilar penting dalam pengembangan proyek, terutama dalam memastikan bahwa solusi yang dikembangkan benar-benar memenuhi kebutuhan bisnis. Dengan menyusun BRD yang jelas dan komprehensif, organisasi dapat meningkatkan peluang keberhasilan proyek dan memastikan bahwa setiap pihak yang terlibat memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan proyek.

Isi form di bagian akhir halaman ini untuk mengunduh template BRD secara gratis, dan gunakan sebagai kerangka diskusi internal Anda berikutnya.

Di titik ini pertanyaannya bukan apakah proyek Anda membutuhkan BRD, melainkan apakah kebutuhan itu ingin disepakati sekarang di atas kertas, atau nanti di tengah pengembangan yang sudah berjalan. Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun dan lebih dari 350 proyek yang delivered, BADR memulai setiap engagement dari fase requirement yang terstruktur. Anda bisa mempelajari cara BADR menghitung biaya dan model kontrak, melihat layanan custom software development kami, atau mendiskusikan kebutuhan proyek Anda dengan tim kami.

FAQ

Apa itu Business Requirements Document (BRD)?

BRD adalah dokumen yang mendefinisikan kebutuhan dan tujuan bisnis dari sebuah proyek, mencakup latar belakang, ruang lingkup, persyaratan bisnis, pemangku kepentingan, dan kriteria keberhasilan. BRD menjadi acuan bersama antara pemilik bisnis dan tim pengembang sebelum solusi teknis dirancang.

Apa perbedaan BRD dan SRS?

BRD menjelaskan kebutuhan dari sisi bisnis: mengapa proyek dilakukan dan apa yang harus dicapai. SRS menerjemahkannya ke spesifikasi teknis: bagaimana sistem harus berperilaku, fitur apa saja yang dibangun, dan standar performa yang harus dipenuhi. BRD disepakati lebih dulu, SRS disusun di atasnya.

Siapa yang bertanggung jawab menulis BRD?

Umumnya Business Analyst atau Project Manager, bekerja sama dengan pemilik bisnis dan pemangku kepentingan kunci. Yang terpenting bukan siapa yang mengetik dokumennya, melainkan bahwa pihak yang berhak mengambil keputusan bisnis terlibat dan menyetujui isinya.

Apakah proyek agile tetap membutuhkan BRD?

Tetap. Agile mengubah cara kebutuhan diturunkan menjadi pekerjaan, bukan menghilangkan kebutuhan akan kesepakatan bisnis. Dalam praktiknya BRD menjadi sumber kebenaran untuk product backlog: setiap user story dilacak balik ke persyaratan bisnis di BRD, dan perubahan dievaluasi terhadap tujuan yang sudah disepakati.

Kapan BRD perlu diperbarui?

Setiap kali ada perubahan signifikan pada tujuan atau ruang lingkup bisnis, misalnya perubahan regulasi, pergeseran prioritas, atau temuan besar saat pengembangan. BRD yang tidak pernah diperbarui sepanjang proyek berjalan biasanya pertanda dokumen itu sudah tidak dipakai sebagai acuan.

Share the article

Grow Your Knowledge

About Software Development with Our Free Guidebook

Grow Your Knowledge

About Software Development with Our Guidebook

You dream it.

We build it!

We provide several bonuses FOR FREE to help you in making decisions to develop your own system/application.

  • Risk Free Development Trial 
  • Zero Requirement and Consultation Cost 
  • Free Website/Mobile Audit Performance

Our Services

Software Development • Quality Assurance • Big Data Solution • Infrastructure • IT Training

You might also like

Tiga Pola Arsitektur Data: Mana yang Cocok?

22 Use Case Data & AI: ROI Benchmark untuk Perusahaan Indonesia

[Free Assesment] Data Management Roadmap: Cara Menentukan Prioritas Implementasi Data di Organisasi

Download [TEMPLATE] Business Requirements Document (BRD)

Silakan isi data di bawah sebelum mendownload file.

Silakan isi data di bawah sebelum mendownload file.

Silakan isi data di bawah sebelum mendownload file.

Silakan isi data di bawah sebelum mendownload file.

Signup for Free Software Development Guidebook: Input Email. Submit me.