Dinamika Design Development di Software House dan Agency
Berperan sebagai UI/UX Designer dan terlibat di dalam sebuah tim memiliki tantangan dan dinamika yang beragam. Mulai dari tantangan dalam kerja tim yang terdiri dari beberapa kepala untuk melakukan ideasi dan merangkum jadi sebuah keputusan (tantangan internal), hingga tantangan dalam komunikasi ide dan konsep kepada tim lain seperti para pemangku kepentingan, tim developer, project manager, atau bahkan client. Namun ada ciri khas yang menjadi dinamika tersendiri di dalam kerja tim pada UI/UX atau product design team berdasarkan setidaknya pada 3 jenis perusahaan yang mengakomodasi tim tersebut, yakni Software House, Design Agency, dan Product Startup. Berikut kilasan penjelasannya:
Perusahaan Software House atau IT Service
Secara umum, software house merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan perangkat lunak (software development). Perusahaan ini melayani berbagai kebutuhan terkait pembuatan aplikasi, website, dan sistem informasi berbasis teknologi informasi.Software house biasanya menyediakan jasa pengembangan perangkat lunak yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan klien, baik itu dalam hal design, fitur, maupun fungsionalitasnya. Software house biasanya terdiri dari tim pengembang yang terdiri dari programmer, designer, dan project manager.
Perusahaan UI/UX Design Agency atau Design Studio
Secara umum, design agency adalah perusahaan yang berfokus pada pengembangan kreatif dalam pembuatan sebuah design aplikasi dan sistem. Perusahaan ini bertanggung jawab untuk menciptakan rancangan sistem yang memiliki proses design yang komprehensif dan dapat diuji dengan baik.
Perusahaan Product Startup
Secara umum, perusahaan product startup merupakan sebuah perusahaan yang memiliki produk digital sendiri. Proses design yang iteratif sangat kental dan dibutuhkan dengan tipe perusahaan ini karena dalam melakukan release sebuah aplikasi atau produk juga sangat memperhatikan pengujian dan validasi kepada user sehingga pengembangan design bisa jadi selalu dilakukan berdasarkan insight yang telah dikumpulkan di setiap pengujian.
Perbedaan Umum
Secara umum, di antara ketiga jenis perusahaan tersebut perbedaan yang cukup signifikan terlihat adalah dari sisi alokasi waktu. Di software house atau agency UI/UX Design Team cenderung mempunyai alokasi waktu design development lebih singkat. Berbeda dengan startup yang mempunyai produk sendiri seperti Tiket.com, Tokopedia, ByteDance, dan lainnya, memiliki lebih banyak ruang untuk melakukan UX Research, explore copywriting, Usability testing, dan aktivitas yang berkaitan dengan digital product lainnya.
Namun tidak sedikit agency yang memiliki workflow design seperti layaknya perusahaan startup karena fokus bisnisnya adalah user-centered design. Di mana waktu yang dibutuhkan memiliki cukup ruang untuk lebih dekat dengan kebutuhan user dengan UX Research dan Testing, dan lebih sejalan kebutuhan stakeholder dalam menyesuaikan dengan sisi bisnis yang akan dijalankan pada sistem.
Di sisi lain, software house memiliki alokasi waktu yang cukup singkat dalam menciptakan design yang mature karena fokus bisnisnya adalah software-development. Di mana alokasi waktu yang tersedia banyak terserap untuk difokuskan pada proses bisnis, hal teknis seperti data dan server, serta pengujian teknis. Lalu bagaimana alokasi waktu untuk design? Ini merupakan tantangan khusus bagi design team dalam utilisasi waktu seoptimal mungkin untuk melakukan analisis dan menciptakan design yang baik yang sesuai dengan kebutuhan user.
Salah satu pendekatan yang sering menjadi andalan adalah presentasi design dengan Semi High-Fidelity Design (Semi Hi-Fi) pada sesi Usability Testing. Semi Hi-Fi adalah istilah tentang sebuah hasil konsep design dalam bentuk Low-Fidelity namun mengadaptasi setengah High-Fidelity yang memiliki konten-konten dan object yang hampir utuh sesuai dengan konteks dari sebuah fitur dan halaman tertentu.

Tentu ini menjadi proses yang sangat bermanfaat bagi design team yang tidak memiliki banyak alokasi waktu untuk melakukan design process yang komprehensif namun dapat memaksimalkan presentasi dan pengujian dengan bahan skenario yang cukup matang.
Efisien untuk Mendapatkan Insights Lebih Luas

Berdasarkan pengalaman kami di Badr Interactive, user memiliki pemahaman dan perilaku yang berbeda saat terpapar informasi melalui product digital. Perbedaan tersebut terbentuk tidak hanya berdasarkan jenis kelamin namun area lain seperti umur, pekerjaan, dan demografi. Dari pengalaman tersebut, kami melakukan eksperimen di aktivitas usability testing dengan menggunakan semi high-fidelity dan merefleksikan temuan yang didapat saat kami menggunakan low-fidelity.
Hasilnya, lebih banyak partisipan, role untuk user saat usability testing, yang memahami arahan penguji dan memaparkan pengalaman penggunaan dari design dalam bentuk semi high-fidelity secara natural jika dibandingkan dengan menggunakan low-fidelity. Namun, kami tetap menemukan partisipan yang lebih fokus pada warna abu-abu atau unfinished design di semi high-fidelity daripada konteks pada konten dan interaksinya. Hal tersebut dapat anda atasi dengan memberikan disclaimer sebelum melakukan agar pengujian dapat berjalan sesuai dengan ekspektasi penguji.
Low-Fidelity vs Semi High-Fidelity vs High-Fidelity
Terdapat perbedaan berdasarkan beberapa kategori sebagai berikut:
Perbedaan Berdasarkan: | Low-Fidelity | Semi High-Fidelity | High-Fidelity |
Tujuan | Memaparkan ide dan konsep design dengan material mentah untuk mendapatkan konteks umum | Memaparkan ide dan konsep design dengan kesiapan material yang cukup kontekstual untuk pengujian sebuah fitur. | Memaparkan konsep design dengan kesiapan material yang matang, dan cenderung siap di-hand-off kepada developer |
Waktu Pengerjaan | Sebentar. Kurang lebih hanya dalam 1 sampai 2 hari | Menengah. Kurang lebih hanya dalam 3 sampai 5 hari untuk fitur besar | Cukup memakan waktu. Kurang lebih 1 sampai 2 pekan |
Jenis perusahaan yang cocok menggunakannya sebagai material usability testing | B2B software house & agency atau studio. Digunakan sebagai ideasi dan validasi awal ketika sebuah fitur mulai direncanakan. Tim IT pada kantor pemerintahan. Cocok digunakan sebagai ideasi awal | B2B software house & Agency atau studio. Digunakan sebagai melakukan pengujian (Usability testing) sebuah fitur tahap awal. | B2B Agency atau studio & B2C product startup. Digunakan untuk pengujian (Usability testing) yang lebih komprehensif dengan skenario yang lebih terperinci. |
Kelebihan | Waktu design development dan mendapatkan insight lebih cepat. | Waktu design development cukup cepat dan mendapatkan insight yang lebih baik karena menguji dengan bahan yang lebih kontekstual | Mendapatkan insight user lebih kontekstual dan berpotensi menemukan validasi lebih komprehensif sehingga dapat segera hand-off atau melakukan iterasi design |
Kekurangan | Insight yang didapat masih banyak yang harus diperkaya dengan pengujian-pengujian yang lain. | Karena bahan yang digunakan menciptakan konsep yang menengah, terkadang menemukan ambiguitas pada hal-hal yang di luar konteks skenario seperti warna design yang masih abu-abu (unfinished design) | Membutuhkan waktu yang cukup lama sampai mendapatkan hasil design yang maksimal untuk dilakukan pengujian usability |
Langkah-Langkah Sederhana Pembuatan Semi High-Fidelity
Pada dasarnya, langkah-langkah pembuatan semi high-fidelity hampir serupa dengan low-fidelity. Anda hanya perlu menambahkan aset foto, warna, atau konten dalam bentuk teks di area yang ingin ditonjolkan untuk diperjelas konteksnya. Berikut adalah langkah-langkah pembuatannya dengan menggunakan Figma.
- Membuat sketsa/wireframe berupa low-fidelity sesuai ide yang mau digambarkan berdasarkan kebutuhan.
- Menentukan beberapa section yang berpotensi tidak dipahami oleh user atau partisipan pengujian sesuai dengan tujuan/skenario yang hendak diuji.
- Melengkapi section tersebut dengan konten yang representatif seperti mengganti dummy text, menambahkan gambar pendukung, menambahkan warna, dll.
Setelah selesai semua proses dilakukan, kemudian hasil mockup semi high-fidelity dapat diuji ataupun dijadikan sebagai bahan presentasi design untuk menjelaskan design kepada stakeholder.
Kesimpulan
Kebutuhan penggunaan semi low-fidelity sangat cocok digunakan untuk tim UI/UX Designer di software house dan agency karena tidak memiliki alokasi yang cukup panjang untuk melakukan riset mendalam dan pengujian namun ingin memaksimalkan dalam mendapatkan validasi dari user atau partisipan. Sedangkan untuk perusahaan startup lebih cocok menggunakan high-fidelity untuk usability testing karena sudah mempunyai design components atau design system yang mature dan memiliki produk yang spesifik serta tidak sebanyak perusahaan B2B yang perlu menyesuaikan case atau kebutuhan dengan proses bisnis client. Jika Anda memiliki case yang unik, silahkan konsultasikan kebutuhan UX Design Anda dengan tim Badr Interactive. Dapatkan gratis konsultasi dengan mengisi form di bawah ini.