Software Developer : Fullstack, Frontend, Backend. Apa Bedanya?

Badr Interactive
- 13 May 2020

Software developer merupakan peran yang paling penting dalam web development project. Seiring perkembangan teknologi yang semakin maju, membuat web development atau system development menjadi lebih kompleks. Hal ini kemudian juga membuat profesi developer menjadi lebih terspesialisasi dimana seorang developer tidak lagi melakukan pengembangan web secara menyeluruh, namun dapat fokus ke bagian tertentu saja, baik itu salah satu bahasa pemrograman, framework, dan berbagai kerjaan teknikal lainnya. Istilah Fullstack, atau Frontend Backend adalah salah satu contoh spesialisasi profesi developer dalam pengembangan suatu sistem.

Frontend

Bagian frontend dari sebuah website adalah bagian yang langsung dilihat oleh user. User juga bisa langsung berinteraksi pada bagian ini. Bagian ini dibangun menggunakan HTML, CSS, JavaScript. HTML (HyperText Markup Language) adalah fondasi dari web. Semua website yang kita kunjungi dibuat menggunakan HTML. HTML menentukan struktur dan konten website. Versi terakhir dari HTML adalah HTML5. Bahasa pemrograman yang mengontrol tampilan HTML pada halaman website disebut dengan CSS (Cascading Style Sheets). CSS menentukan warna, font, gambar background, dan bahkan bagaimana tampilan keseluruhan website. Versi terakhir dari CSS adalah CSS3, yang menambahkan fitur seperti interaktivitas dan animasi dasar. Kita bisa menciptakan sebuah website hanya dengan menggunakan HTML dan CSS, tetapi yang benar-benar akan membuat website kita tampil menarik adalah JavaScript. Dengan JavaScript, kita bisa melakukan banyak hal, seperti interaktivitas, animasi yang lebih kompleks, dan bahkan kita juga bisa membuat fully feature web application. Dulu (sekitar tahun 2012), kebanyakan browser tidak dapat menginterpretasikan JavaScript dengan baik sehingga menambahkan fungsi-fungsi kompleks JavaScript bukanlah ide yang bagus. Tetapi, saat ini browser sudah menjadi lebih canggih dan bisa menjalankan JavaScript dengan baik. Ini menjadikan JavaScript tidak hanya digunakan untuk bagian backend lagi. JavaScript sendiri juga telah mengalami banyak kemajuan dengan bertambahnya framework-framework seperti Angularjs, jQuery, dan Node.js. Singkatnya, apa yang didefinisikan dengan frontend telah banyak berubah dalam waktu yang singkat. Frontend developer menggunakan HTML, CSS, JavaScript untuk coding website. Mereka menciptakan design website dan kemudian membuat website tersebut dapat berfungsi. Sebagian website hanya menggunakan HTML, CSS, JavaScript. Tetapi sebagian lainnya juga ada menggunakan backend programming language.

Backend

Backend adalah bagian belakang layar dari sebuah website. Bahasa pemrograman untuk backend development diantaranya adalah PHP, Ruby, Python, dan banyak lainnya. Satu hal yang akan kita temui: tidak akan banyak perusahaan yang mem-posting lowongan kerja dengan kalimat “backend developer”. Yang akan lebih sering kita temui adalah lowongan pekerjaan untuk “Ruby developer”, “PHP developer”, dan lain sebagainya. Ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh JavaScript, namun dapat dilakukan oleh bahasa pemrograman backend. Kebanyakan sistem manajemen konten dibangun melalui backend programming, contohnya pada aplikasi web yang kompleks. Belajar coding akan mengajarkan kita menemukan solusi terbaik untuk berbagai masalah, dan terkadang backend programming adalah bagian dari solusi tersebut. Untuk membangun sebuah website yang berjalan dengan baik, backend developer biasanya bekerjasama dengan frontend developer.

Full stack

Fullstack developer bekerja pada bagian frontend dan backend. Mereka menguasai HTML, CSS, JavaScript, dan satu atau lebih bahasa pemrograman backend. Perkembangan teknologi saat ini membuat perbedaan frontend dan backend development menjadi semakin sedikit. Banyak hal yang sebelumnya hanya bisa dilakukan pada bagian backend, dapat dilakukan juga melalui frontend. Ini membuat semakin banyaknya developer yang menguasai frontend dan backend programming sekaligus. Pada saat ini, menjadi full stack developer juga menambah nilai khusus kita di mata perusahaan. Tetapi, menjadi full stack developer bukan berarti kita harus mengerjakan keseluruhan kode baik frontend atau backend sebuah website. Kebanyakan full stack developer tetap menghabiskan waktunya pada satu bagian programming saja. Namun, kelebihan dari full stack developer adalah mereka bisa melakukan analisa masalah pada kedua bagian programming. Ada juga beberapa fullstack developer yang mengerjakan semuanya sendiri, biasanya ini terjadi jika mereka freelance atau satu-satunya developer yang bekerja pada sebuah project.

Mana yang Lebih Cocok untuk Sistem Anda?

Bagian paling menarik dari web development adalah sifatnya yang terus berkembang. Apa yang dimaksud sebagai “frontend” atau “backend” pada saat ini, bisa saja akan berubah secara drastis dalam beberapa tahun ke depan. Mempelajari keduanya akan membuat kita lebih mempunyai nilai, gampang beradaptasi, dan berpandangan ke depan. Biasanya, suatu perusahaan memilih untuk merekrut developer dengan keterampilan yang luas. Tak harus seorang spesialis, tapi developer ini harus memahami bahasa pemrograman dan fasih menggunakan berbagai tool untuk membangun website, baik di sisi back-end maupun front-end.

Pada prinsipnya antara back-end developer dengan full stack developer memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Jika Anda sebagai pengguna jasa hanya membutuhkan pengembangan website di bagian belakang, tentu back-end developer lebih baik karena memiliki keahlian spesial di bidang tersebut, dibandingkan dengan full stack developer. Namun, pandangan tersebut akan berbeda dari sisi bisnis. Tak sedikit pengguna jasa yang lebih memilih untuk mempekerjakan full stack developer daripada back-end developer. Mengapa?

Dari sisi bisnis, pengguna jasa cenderung memilih untuk mempekerjakan Developer yang memiliki kemampuan dan keahlian guna mengerjakan tugas dalam lingkup yang lebih luas. Meski tak harus spesialis, setidaknya Developer memahami bahasa pemrograman dan menggunakan beragam tool yang dibutuhkan untuk membangun website baik di sisi belakang (backend) maupun depan (frontend). Nah, keahlian ini dimiliki oleh full stack developer, bukan backend developer.

Seiring dengan perkembangan kebutuhan ‘pasar’, tuntutan akan pengembangan teknologi pun semakin meningkat, terutama di sisi client atau ranah lingkup kerja front-end developer. Namun, kebutuhan akan back-end developer juga tak bisa dilepaskan begitu saja. Oleh sebab itu, para produsen teknologi cenderung menginginkan Developer yang tak hanya mampu menguasai back-end saja, tetapi juga front-end. Sebagai hasilnya, kehadiran full stack developer seolah menjawab dan menjadi solusi atas kebutuhan keahlian di sisi back-end dan front-end. Meski tak menutup kemungkinan bahwa keahlian seorang spesialis back-end developer tetap dibutuhkan, namun menjadi nilai tambah tersendiri apabila memiliki pekerja developer dengan kemampuan lintas fungsional back-end dan front-end.





100+ perusahaan bekerjasama dengan Badr Interactive untuk mengoptimalkan website dan aplikasi mereka.

Selama lebih dari 8 tahun, kami telah mengembangkan 200+ website/aplikasi untuk berbagai klien kami.

Mari bergabung dan ciptakan sistem terbaik untuk perusahaan Anda