BLOG POSTS

6 April 2015

programmer-dan-pertumbuhan-startup-teknologi-indonesia

Programmer dan Pertumbuhan Startup Teknologi Indonesia

Beberapa hari yang lalu saya bersama perwakilan beberapa startup, instansi pendidikan, komunitas teknologi, dan instansi pemerintah di Indonesia diundang untuk menghadiri FGD tentang rencana pembangunan inkubasi untuk penyedia konten lokal dan aplikasi yang diadakan oleh Kemenkominfo RI. Di acara tersebut selain dipaparkan banyak informasi dari para panelis tentang rencana Pemerintah dalam pengembangan sektor teknologi, saya juga banyak mendapat inspirasi dari diskusi serta pandangan para peserta FGD yang hadir. Ada satu poin yang menarik dalam diskusi kami pada FGD saat itu, yaitu tentang kesiapan SDM Indonesia untuk membangun ekosistem startup teknologi tanah air dalam menghadapi persaingan global mendatang.

Poin penting yang sempat jadi titik tekan beberapa peserta FGD saat itu adalah tentang kualitas dari SDM Indonesia di bidang pengembangan teknologi yang masih diakui belum memenuhi kebutuhan para pelaku startup teknologi. Salah satu peserta startup yang juga merupakan mentor saya, Bang Ahmad Zaky (founder dan CEO Bukalapak) mengatakan bahwa mencari engineer yang berkualitas saat ini di Indonesia sangat sulit. Banyak para mahasiswa IT yang memilih untuk tidak bergulat dengan “codingan” pada saat mereka di bangku kuliah sehingga memunculkan fenomena sangat sedikitnya lulusan IT yang bisa programming ketika lulus. Bang Zaky mencontohkan, ITB yang rata-rata hanya 20% dari lulusan IT (Sistem Informasi maupun Teknik Informatika) yang bisa melakukan programming dengan baik, padahal jika dibandingkan dengan lulusan jurusan IT di USA, mereka bisa menghasilkan hingga 90% lulusan yang bisa punya kompetensi programming ketika lulus. Kalaupun ada yang punya keahlian tinggi dalam programming, mereka memilih bekerja di perusahaan multinasional yang memberikan iming-iming insentif besar ketimbang mendirikan atau bergabung dengan startup teknologi yang ada. Jadi realitanya ternyata banyak startup yang sangat kesulitan mencari CTO untuk startup teknologi mereka.

Fenomena ini juga saya ketahui pekan lalu ketika diundang menjadi dosen tamu mata kuliah New Venture Management di program MBA ITB. Salah satu dosen tetap di sana mengaku mengalami kesulitan untuk memacu para mahasiswa membangun bisnis yang inovatif karena kekurangan orang-orang yang punya kualitas bagus di sisi technical. Hal ini menyebabkan banyak mahasiswa yang ide bisnisnya hanya berkutat pada produk-produk yang sudah ada di pasaran dan akhirnya harus bergelut pada medan kompetisi dengan pemain-pemain besar di target market yang sama. Setiap ide produk para mahasiswa di sana pasti membutuhkan aspek teknologi di dalamnya, tapi tidak banyak resource yang bisa diajak berkolaborasi untuk memenuhi akses di bidang teknologi di sana.

Semua hal tersebut menjadi sangat penting karena ketika kita ingin membuat startup teknologi yang bisa menghasilkan value yang besar, minimal kita harus punya kepemilikan produk teknologi tangguh yang juga harus didukung oleh SDM yang kompeten. Peter Thiel dalam bukunya, Zero to One, menegaskan, jika sebuah startup ingin bisa memonopoli pasar, maka minimal ia harus punya produk teknologi yang bisa memberikan solusi 10 kali lipat lebih baik dari solusi yang ada saat ini. Kepemilikan produk teknologi ini yang membuat sebuah startup punya keunggulan kompetitif dan menjadi tidak mudah ditiru para pesaingnya. Contoh kepemilikan teknologi yang bisa membuat sebuah startup bisa menguasai pasar misalnya google dengan algoritma search enginenya yang bisa menghasilkan hasil lebih baik dan lebih cepat dari pada search engine yang lainnya. Sangat sulit bagi siapapun untuk membuat seperti yang Google buat di era awal tahun 2000-an. Dan dengan teknologi secanggih itu pada zamannya, Google berhasil menciptakan value yang besar bagi produknya, terbukti dari mereka bisa mengumpulkan pendanaan hingga 25 juta USD hanya dalam waktu 1 tahun sejak mereka menciptakan Google.

Menciptakan teknologi yang 10 kali lipat lebih baik tidak melulu tentang fitur dan kecanggihan teknologi yang dipakai saja, tapi juga bisa dilakukan melalui keunggulan signifikan dari tampilan desainnya. Sebagai contoh Apple dengan produk iPadnya, bisa mengalahkan produk tablet yang telah muncul lebih dulu di pasaran keluaran Microsoft maupun Nokia dengan desain serta experience yang menawan.

Teknologi bagi sebuah startup yang bergerak di ranah teknologi menjadi hal yang sangat signifikan. Walaupun startup kita dikemas dengan branding dan komunikasi publik yang luar biasa bombastis tapi jika substansi produk yang kita tawarkan tidak kuat, maka kita akan lebih mudah dikalahkan oleh startup yang punya produk yang jauh lebih baik dari sisi substansi teknologinya. Sebagai contoh dalam dunia manufaktur smartphone maupun tablet banyak sekali produsen-produsen yang berusaha meniru bagaimana Apple melakukan branding dan komunikasi publik selama ini. Dari sisi segmentasi pasar, harga yang premium, tampilan desain yang lux, hingga personal brand CEO nya yang di-expose ke publik. Namun ternyata hal tersebut tidak membawa dampak signifikan jika secara substansi, produk teknologi startup tersebut tidak mampu menawarkan solusi yang jauh lebih baik. Apple bisa sedemikian kuat hingga saat ini menjadi perusahaan teknologi paling valuable di dunia karena ia memiliki kekuatan dari gabungan keunggulan teknologi hardwarenya dan juga ekosistem yang kuat terdiri atas ribuan developer yang telah membuat banyak sekali software untuk Apple.

Perjalanan Yahoo! menjadi sebuah pelajaran bagi kita bahwa kemasan tanpa diisi dengan substansi produk yang luar biasa tidak akan mendapatkan hasil signifikan. Sejak dipimpin oleh Marissa Mayer tahun 2012, Yahoo! berusaha untuk dapat membuat brand nya kembali menjadi lebih keren. Ia mulai melakukan perubahan seperti mengganti logo Yahoo!, mengakusisi Tumblr untuk mendapatkan pasar anak muda, hingga mencoba menarik perhatian banyak media dengan kekuatan Marissa Mayer untuk menjadi bintang dalam dunia teknologi. Tapi hal tersebut tidak berlangsung signifikan karena Yahoo! tidak membuat produk apapun yang bisa memberikan nilai tambah signifikan kepada target marketnya. Berbeda dengan Apple, Google, Facebook dan startup dengan riwayat kesuksesan lainnya yang punya produk teknologi dan punya nilai tambah sangat besar untuk penggunanya.

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi sebuah startup yang bergerak di dunia teknologi atau mempergunakan teknologi dalam aktivitasnya untuk bisa punya keunggulan dari sisi teknologi yang signifikan dan menciptakan produk yang memberi nilai tambah berkali-kali lipat lebih baik dari solusi yang ada saat ini. Dan itu semua tidak dapat terjadi jika tidak dilakukan bersama SDM yang berkualitas sehingga kebutuhan SDM berkualitas dari sisi kapasitas technical menjadi tak terhindarkan. Untuk para mahasiswa di bidang teknologi perlu kita sadari bahwa kemampuan kalian memiliki peran penting dalam tumbuh kembang dunia startup teknologi Indonesia, sehingga jangan sampai puas dan nyaman dengan kapasitas diri saat ini, terlebih jika kita menghindari atau bahkan tidak suka sama sekali dengan programming atau hal technical yang menjadi kemampuan dasar seorang lulusan jurusan IT. Menjadi orang dengan keahlian programming yang sangat tinggi bukan berarti menjadikan diri kita sebagai “kuli coding”, tapi justru membuat diri kita mampu untuk membuat solusi produk yang memberikan nilai tambah signifikan untuk masyarakat. Selamat meningkatkan kapasitas diri dan bersiaplah untuk menciptakan karya-karya besar kalian!