BLOG POSTS

2 April 2015

melahirkan-startup-dari-hikmah-kehidupan

Melahirkan Startup dari Hikmah Kehidupan

Suatu hari di tahun 1996, ada seorang eksekutif muda akan pulang dari kantornya di gedung pencakar langit. Ia masuk ke dalam lift yang mulai bergerak turun menuju lantai dasar. Di tengah pergerakan lift ia menyadari sesuatu yang menarik perhatiannya. Setelah tak terhitung berapa kali ia pernah berada di dalam lift namun baru saat itu ia bisa menangkap perilaku orang-orang di dalam lift yang bersama eksekutif muda tersebut. Orang-orang di dalam lift tersebut ternyata banyak yang berkali-kali melihat jam tangan atau mobile phone mereka, terus menerus menatap lantai lift, atau apapun yang dilakukan untuk menghindari kontak mata dengan orang-orang lainnya di dalam lift. Ia kemudian berpikir, kenapa tidak kita buat sebuah layar digital yang bisa otomatis berganti konten secara simultan sehingga ada sesuatu yang menarik dan bisa dilihat oleh orang-orang di dalam lift sepanjang perjalanan vertikal mereka. Di masa itu belum ada smarphone sehingga menatap mobile phone, jam tangan, terlebih lantai lift tentunya bukan aktivitas menarik.

Di sinilah eksekutif muda tersebut menemukan ide produk dan akan ia jadikan sebagai startup yang menjadi pionir dunia periklanan digital saat itu, sebuah papan iklan digital berbasis jaringan internet. Dari momen tersebut ia mengadakan market research untuk memverifikasi idenya yang ternyata semakin meneguhkan dirinya bahwa idenya sangat brilian. Dengan juatan orang yang bergerak di dalam lift di banyak gedung pencakar langit di kotanya, ia membayangkan produk yang bisa menampilkan iklan bergerak untuk ditawarkan kepada para brand besar sekaligus juga produk yang bisa membuat pengalaman selama di lift tidak lagi membosankan bagi para pengelola gedung pencakar langit.

Ia tentunya menyadari bahwa ia adalah pemain pertama yang mengeksekusi ide ini sehingga dibutuhkan proses penelitian dan edukasi pasar yang tidak mudah. Namun siapa sangka ternyata ia bisa mengedukasi dan meyakinkan para target pasarnya dengan sangat baik. Para pengelola gedung maupun pemilik brand-brand besar tertarik untuk bisa bekerja sama dengan produknya ini. Dengan perkiraan bahwa rata-rata seorang pekerja kantoran bisa melakukan 6 kali perjalanan menggunakan lift selama sekitar 1 menit setiap perjalanan. Dari sana ia bisa memperkirakan bahwa rata-rata orang bisa menghabiskan 120 menit dalam sebulan atau 24 jam dalam 1 tahun berperjalanan dengan lift. Jika rata-rata setiap iklan dari sekian banyak iklan muncul satu kali tiap 10 menit, maka dengan frekuensi sebesar itu seorang pengguna lift diperkirakan akan dapat melihat iklan tersebut minimal dua belas kali dalam satu bulan. Dengan statistik sebaik itu tidak ada satupun medium iklan di masanya yang dapat memastikan tingkat interaksi sesering produk yang ia ciptakan. Itulah yang membuat ia dapat meyakinkan baik pemilik brand besar maupun pengelola gedung-gedung pencakar langit untuk bekerja sama dengannya.

Orang ini bernama Michael DiFranza, CEO Captivate. Captivate dalam perjalanannya sempat mendapat investasi sebesar USD 100 juta dari venture capital dan memiliki lebih dari 12.000 panel digital yang terpasang di 1000 lebih gedung di Amerika. Lebih hebatnya lagi semua ini berawal dari ide yang muncul dari sebuah AHA moment (momen dimana kita tiba-tiba mengerti permasalahan atau kerumitan yang kita miliki sebelumnya, biasa juga disebut eureka moment) di aktivitas dan kehidupan yang biasa.

Terkadang memang ide dan karya besar muncul dari sebuah letupan kecil yang bisa ditangkap dari kehidupan sehari-hari kita. DiFranza menemukan Captivate dari rutinitasnya menggunakan lift, Brian Chesky terinspirasi mendirikan Airbnb yang menjadi platform repositori penyewaan properti terbesar di dunia dengan valuasi USD13 Milyar, setelah ia menyewakan air bed (kasur yang berisi udara), Ingvar Kamprad terinspirasi mendirikan IKEA (perusahaan multinasional di lebih dari 46 negara yang menjual barang-barang furniture rakitan) ketika ia memiliki masalah tidak dapat memasukkan meja ke dalam mobilnya sehingga ia harus melepas kaki-kaki mejanya, hingga Newton yang menemukan teori gravitasi dari apel yang jatuh dalam perenungannya.

Sebuah rutinitas berulangpun ternyata bisa menimbulkan hikmah yang memicu pemikiran besar ketika kita mampu menyadari dan mengolahnya. Namun permasalahannya tidak semua orang mau dan bisa menemukan hikmah tersebut karena sesederhana mereka tidak cukup rendah hati untuk belajar. Kita sebenarnya bisa belajar kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun ketika kita mau membuka diri, tidak merasa sombong atas semua ilmu, informasi, asumsi, kesimpulan, dan pengalaman kita.

Di saat menemukan hikmah, dari peristiwa sekecil apapun itu, kita akan menemukan AHA moment kita sendiri. Mungkin ada hikmah luar biasa yang bisa kita petik dari setiap perjalanan dan kebiasaan kita dari bangun, makan, bekerja, berinteraksi, hingga tidur lagi. Dunia ini masih penuh dengan misteri yang belum terungkap. Walaupun peta dunia sudah kita bisa ketahui semua tapi belum ada yang bisa menjelajahi hutan tropis paling terselubung atau palung di lautan yang paling dalam. Manusiapun merupakan makhluk sosial yang sangat kompleks dan dinamis berubah dari waktu ke waktu, masih banyak hal-hal yang bisa kita optimalkan untuk membuat peradaban menjadi lebih baik. Jadi, mari kita selalu menjadi pembelajar, jernihkan hati, tidak sombong, dan mau menerima perspektif baru sehingga ide-ide besar bisa muncul dari keseharian paling rutin dan biasa dari hidup kita. Selamat mencari dan menemukan AHA moment kita sendiri.