BLOG POSTS

4 May 2015

manajemen-kinerja-perusahaan-bagian-1

Manajemen Kinerja Perusahaan (Bagian 1)

Era pasar bebas baik di ASEAN maupun Asia Pasifik telah tiba. Indonesia dengan penduduk terbesar ke 3, setelah Tiongkok dan India, memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Indonesia hanya akan dijadikan sebagai pasar ekonomi oleh negara lain atau Indonesia dapat berjaya di negerinya sendiri dan menjadikan negara lain sebagai pasar ekonominya. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, kita harus mengevaluasi kembali seberapa besar competitiveness individu, perusahaan & pemerintah Indonesia dibandingkan dengan individu, perusahaan & pemerintah negara tetangga. Salah satu hal yang bisa meningkatkan competitiveness adalah dengan mengimplementasikan manajemen kinerja (performance management), yaitu dengan mengevaluasi kinerja dari individu maupun kelompok tertentu.

Disisi lain, penciptaan bisnis-bisnis baru sangat penting bagi ekonomi negara kita, terutama untuk mengurangi angka pengangguran yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Penciptaan bisnis-bisnis baru, atau yang biasa disebut dengan entrepreneurship, masih kurang digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Lulusan-lulusan sarjana lebih memilih menjadi seorang pegawai (baik itu pegawai negeri sipil, pegawai BUMN, pegawai swasta di perusahaan bonafit) ketimbang menjadi seorang entrepreneur. Menurut penelitian di AS, 56% Startup Company (perusahaan yang baru dibangun) harus gulung tikar sebelum perusahaan tersebut genap berusia 4 tahun (Knaup, 2005; Headd, 2003), mungkin hal ini yang menjadikan masyarakat enggan untuk membuat Startup-startup baru karena khawatir tidak ada jaminan mendapatkan penghasilan untuk jangka panjang.

Menurut penelitian di AS, 56% Startup Company (perusahaan yang baru dibangun) harus gulung tikar sebelum perusahaan tersebut genap berusia 4 tahun (Knaup, 2005; Headd, 2003)

Semua jenis usaha akan menghadapi tantangan yang semakin sulit di era persaingan bebas saat ini. Pertama, laju perubahan produk, teknologi baru, dan pergeseran pilihan pelanggan telah berubah secara drastis (Bettis & Hitt, 1995). Kedua, batasan industri semakin tidak jelas, karena banyaknya industri yang konvergen atau saling tumpang tindih, terutama di industri-industri yang berhubungan dengan teknologi (Bettis & Hitt, 1995; Hamel & Prahalad, 1994). Kita juga banyak menyaksikan perusahaan-perusahaan memperluas bisnisnya melalui strategi penggabungan bisnis dari hulu sampai ke hilir (contohnya, perusahaan minyak goreng membeli tanah-tanah perkebunan kelapa sawit dan di sisi lainnya mereka juga memiliki perusahaan distribusi barang-barang kebutuhan pokok). Terakhir, tingginya percepatan perubahan ini membuat meningkatnya tekanan kepada perusahaan-perusahaan untuk bereaksi lebih cepat, sebagaimana waktu sering dijadikan sebagai salah satu keunggulan kompetitif (Stalk & Hout, 1990). Semua hal tersebut membuktikan bahwa perusahaan-perusahaan harus memberikan perhatian khusus terhadap peluang bisnis dan memanfaatkan manajemen strategi perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan kemampuan dan kompetensi khusus yang dimiliki perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh keunggulan kompetitif dan meningkatkan kinerja.

Peran perusahaan startup yang biasanya tergolong usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia sangat penting, mereka sering digambarkan sebagai mesin ekonomi riil dan juga sebagai penyumbang penciptaan lapangan kerja baru. Pada kenyataannya, jumlah perusahaan startup yang gulung tikar sebelum genap berusia 4 tahun masih tinggi. Hal ini dikarenakan faktor eksternal (lingkungan bisnis yang berubah-ubah dan kacau) dan faktor internal, yaitu rendahnya kinerja dari perusahaan startup tersebut karena buruknya proses perencanaan strategi dan orientasi kewirausahaannya (Kroeger, 2007). Ada dua jenis kinerja yang dapat dievaluasi dari sebuah perusahaan, yaitu Tangible & Intangible. Evaluasi kinerja inilah yang akan dijadikan panduan pimpinan perusahaan dalam menentukan strategi dan kebijakan perusahaan agar tetap bertahan dan berkembang.

Bagaimana dengan Startup/Perusahaan Anda?

Apakah Anda sudah siap untuk menghadapi era pasar bebas?

Apa yang sudah Anda lakukan untuk menghadapai era pasar bebas?

 

Bersambung di Bagian 2….

 

Catatan:

  • 15 Mei mendatang, PT. Badr Interactive genap berusia 4 tahun. Alhamdulillah, perusahaan ini tidak tergolong 56% Startup Company yang harus gulung tikar sebelum perusahaan tersebut genap berusia 4 tahun (Knaup, 2005; Headd, 2003). :”)
  • Tulisan ini merupakan bagian dari karya ilmiah yang sedang saya buat. So, feel free to give any feedback and i’ll be glad to have any further discussion.

 

Daftar Pustaka:

Bettis, R. A., & Hitt, M. A. (1995). The new competitive landscape. Strategic Management Journal, Summer Special Issue, 16, 7-19.

Headd, B. (2003). Redefining business success: Distinguishing between closure and failure. Small Business Economics, 21(1), 51-61.

Hamel G., & Prahalad, C. K. (1994). Competing for the future. Boston, MA: Harvard Business School Press.

Knaup, A. E. (2005). Survival and longevity in the business employment dynamics database. Monthly Labor Review, 128, 50-56.

Kroeger, J. W. (2007). Firm Performance as a Function of Entrepreneurial Orientation and Strategic Planning Practices, Thesis for Doctor of Business Administration, Cleveland State University.

Stalk, G., & Hout, T. M. (1990). Competing against time. New York, NY: Free Press.

 

Nanang Alamsyah
Nanang Alamsyah

Latest posts by Nanang Alamsyah (see all)