BLOG POSTS

8 March 2016

Designer Its not about me its all about us

Designer: It’s not about ‘me’, it’s all about ‘us’

Wyanet Falasifa Paramasanthaty adalah Lead Designer di Badr Interactive. Tulisan ini dibuat dan di publish di Linkedin pribadinya.

Hallo, by the way ini adalah postingan pertama saya di Linkedin. Saya akan berbagi pengalaman tentang cara belajar, cara kerja, masalah dan solusi yang berkaitan dengan profesi saya sebagai UI/UX Designer. Mungkin beberapa postingan saya bisa bermanfaat bagi kalian yang berlatar belakang sama.

:)

First of all postingan ini ada berawal dari pengalaman saya dalam mendesain beberapa mockup aplikasi mobile dan web. Terkadang kita sebagai seorang desainer UI (User Interface) / UX (User Experience) sudah merasa maksimal dengan hasil desain yang kita buat.

Seperti “Please, it was perfect! Jangan ada revisi ya Tuhan..”.

Mungkin sebagian dari kita yang bekerja sebagai freelancer atau desainer UI/UX di sebuah agensi hampir di setiap proyek mengalami hal ini.

Tapi.. setelah hasil desain dilihat oleh klien..

Bang .. Bang… Bang…! (#$%^&*)
*tetiba sekotak feedback pun datang

Heads up!
Ada 3 jenis klien:

Klien yang pasrah (menyerahkan yang terbaik kepada tim, hanya mementingkan fungsional saja),
Klien yang kooperatif (mereka concern dengan target user dan ikut memberikan solusi),
Klien yang egois (semau mereka, merasa paling benar, susah diprediksi dan biasanya decision maker berada pada pimpinan mereka, terlalu banyak prosedur).
Jika kita mendapatkan jenis klien pertama, bersyukurlah.. Tetapi bukan berarti kita dapat bebas mendesain semau kita. ‘Mendesain semau kita’ sama dengan mendesain dengan asumsi kita sendiri saja.

User Oriented, First..
Asumsi kita sendiri saja belum cukup mewakili pola pikir user dalam menggunakan aplikasi tersebut. Meskipun kita sudah melakukan analisa target user diawal, seperti berapa umur mereka, aplikasi apa saja yang sering mereka gunakan, warna apa yang sesuai dengan mereka dan lain-lain. Hasil analisa itu hanyalah kulit luarnya saja dan belum menentukan bahwa desain yang kita buat (dengan asumsi dan perkiraan sendiri) sudah mempermudah dan memuaskan user.

Jika kita sulit memposisikan diri kita sebagai user dan entah bertanya kepada siapa. Maka..

Buat Prototype
Tahan ego kita untuk langsung membuat mockup yang detil dan sempurna. Pensil dan kertas saja (meskipun tradisional) sudah sangat membantu dalam membuat prototype. Sketch sedetil mungkin hingga satu screen dengan screen lainnya benar-benar sesuai dengan flow aplikasi. Jika sudah lengkap, buatlah prototype di aplikasi prototyping (seperti marvelapp.com *it’s free). Lalu cari 4-5 orang yang benar-benar sesuai dengan kriteria target user kita (kalau bisa kita tidak mengenal mereka) . Tes prototyping aplikasi kita pada mereka dan kumpulkan feedback dari mereka. Jangan lupa minta nomor kontaknya untuk testing prototype berikutnya..

Berikut link contoh prototype (tetapi dengan sketch digital)

Iteration

Lakukan testing secara terus menerus hingga kita mendapatkan nilai kemudahan dan kepuasan user dalam menggunakan aplikasi kita. Jika secara UX sudah baik, bagaimana dengan UI? Lakukan saja hal yang serupa..

It’s all coming back to user.. User satisfied = DONE

Ya memang kepentingan user adalah segala-galanya, (kembali ke pembahasan klien) bagaimana jika kita mendapatkan klien dengan tipe kedua? Biasanya mereka sudah mempersiapkan fitur-fitur dan sedikit ‘cerewet’ dengan desain aplikasi. Tetapi jika terdapat fitur atau desain yang menyulitkan user, ada baiknya kita sebagai desainer memberikan bukti bahwa fitur/desain tersebut akan menyulitkan user. Bagaimana caranya? Kumpulkan feedback dari target user aplikasi tersebut dan berikan pengertian kepada klien bahwa..

“Aplikasi ini bukan hanya mereka saja yang menggunakan, aplikasi ini haruslah mudah digunakan oleh siapapun (sesuai target)”

Tahan ego untuk mendesain aplikasi dengan estetika yang indah, apalagi jika kita mendapatkan klien dengan tipe ketiga. Egois? Terkadang saya agak tergelitik dan merasa bahwa klien tipe ini adalah cerminan diri di masa lalu. Mendesain semau saya sendiri, merasa paling benar dan merasa desainnya sudah sempurna. Haha tapi itu dulu.

Percuma jika kita tidak tahu standar desain klien tipe ini. Seperti kita sudah mendesain dan menyesuaikan dengan tren desain aplikasi saat ini. Ternyata yang dianggap bagus adalah tren desain tahun 1999 (anggap saja begitu). Saya pernah memiliki pengalaman mendesain web salah satu perusahaan, pada awalnya mereka tidak memberikan referensi web yang menurut mereka bagus. Okay, saya mencoba redesain web yang sudah ada dengan gaya flat (tren saat ini), beberapa hari kemudian Team Leader saya ‘kena semprot’ dengan atasan perusahaan tersebut.

“Apa ini sepi sekali! !$@!%@$%#%#”

Team Leader saya pun pulang dengan muka nanar. Kasihan sekali dia.

Dan ternyata atasan perusahaan tersebut memberikan referensi yang beliau bilang bagus. Beliau lebih suka terdapat gradasi dan ornament. Baiklah.. ternyata beliau ini sudah berumur cukup tua.

Untuk mengatasi hal ini sulit jika tetap menyanggah klien keras kepala seperti ini demi user mereka. Cobalah berfikir keras bagaimana mengkombinasikan modernisasi dengan selera klien tipe ini.

“Desainer dituntut untuk struggle karena desainer adalah problem solver not a painter.”

It’s All About ‘Us’
Meskipun kita harus memuaskan user, kita pun harus memuaskan klien (apa pun jenisnya). Jadilah pendengar yang baik. Tak lupa kita bekerja dalam satu tim. Team leader, developer, designer dan business analyst adalah satu kesatuan, saling mengisi satu sama lain. Jadi, kita sebagai desainer haruslah ber-empati, tidak hanya dengan user dan klien tetapi juga kepada teman satu tim, terutama developer. Terkadang ide seorang desainer bisa menjadi liar, tetapi lihatlah mereka developer yang berjuang menerjemahkan desain kita ke dalam barisan kode. Berikan desain yang memang dapat diimplementasi dengan baik.

Ayo jadi desainer yang bertanggung jawab :)

Wyanet Falasifa
explore me

Wyanet Falasifa

UI/UX Designer at Badr Interactive, Inc
Design should be fun and the process behind it should be enjoyed just as much as the final result.
Wyanet Falasifa
explore me

Latest posts by Wyanet Falasifa (see all)