BLOG POSTS

16 October 2015

Istanbul 1

Catatan Perjalanan Startup Istanbul Bag. 1: Lost In Istanbul

Setelah kenyataan yang cukup pahit (baca: kalah) di kompetisi Seedstars pada minggu sebelumnya, saya pun akhirnya kembali berlatih untuk kompetisi selanjutnya yaitu Startup Istanbul. Sekitar pertengahan bulan September, saya diminta untuk melakukan pitching secara online melalui Skype dengan salah satu panitia Startup Istanbul untuk dapat menentukan startup yang akan diundang menghadiri kompetisi. Pitching berjalan lancar tanpa hambatan dan setelah 1 minggu kemudian iGrow dinyatakan lolos seleksi dan diundang menuju Istanbul selama 5 hari dari tanggal 1 sampai 5 Oktober 2015.

Persiapan pun dilakukan, perwakilan yang berangkat adalah saya dan CEO Badr Interactive, Andreas Senjaya. Kami membeli tiket pesawat dengan jarak waktu yang berbeda, mengakibatkan kami harus menaiki pesawat berbeda setelah transit di Amsterdam (saya akan bercerita lebih panjang mengenai ini). Kami membeli Visa Online  seharga tiga ratus ribuan rupiah. Untuk yang berniat ke Turki sangat disarankan untuk membeli melalui online, karena jika membeli saat arrival, antrian imigrasi sudah terlalu panjang. Untuk penginapan, kami baru pesan di airbnb H-2 sebelum keberangkatan (untuk yang ingin ke Turki, jangan ditiru ya!) yang mengakibatkan kami tak kunjung mendapat kejelasan tempat tinggal sampai H-1 karena sistem airbnb yang memberikan approval maksimal H+1. Alhamdulillah berkat bantuan koneksi dari Bang Jay, kami bisa mendapat apartemen murah dengan harga 200 rb per malam. Jangan lupa juga persiapkan paspor dan pastikan belum expire dalam jangka waktu 6 bulan.

(Almost) Lost in Istanbul

Suasana Bandara Schipol, Amsterdam
Suasana Bandara Schipol, Amsterdam

 

Nampang sebentar di Amsterdam :)
Nampang sebentar di Amsterdam :)

 

Kami berangkat pada Selasa 29 Oktober dan dijadwalkan tiba di Istanbul pada Rabu 30 Oktober. KLM the Royal Dutch Airline adalah pilihan airline kami, selain tepat waktu, TV dalam pesawat yang menyajikan not-so-old-movie (Ant-Man dan Jurassic World) dan yang paling penting, makan dan snack, menjadikan penerbangan ini yang terbaik dalam sejarah hidup saya (yeah!).

Berangkat dari bandara Soetta sekitar pukul 16.00, kami transit di Amsterdam dan mendarat pukul 06.00 esok harinya (Kok ke Turki harus ke Amsterdam dulu? bingung? Sama saya juga). Setelah menunggu sekitar 4 jam, Bang Jay berangkat duluan menuju Istanbul, sementara saya masih harus menunggu 4 jam lagi. Airline saya berikutnya, Pegas*s Airline, sama seperti airline yang sering saya gunakan di Indonesia, telat dan tanpa makanan.

Penerbangan pun di lanjutkan, dan alhamdulilah saya tiba di Istanbul pukul 21.00, lewat 2 jam dari waktu yang diprediksikan. Panik, karena saya harus menghubungi salah satu sahabat yang menunggu untuk mengantar ke apartemen, sementara itu di bandara Sabiha Gokcen tidak memiliki fasilitas wifi (duh!), ditambah lagi harus mengantri sangat panjang di loket imigrasi. Tengok kiri kanan, semuanya orang bule, pingin minjem koneksi, takut dikira mau nyopet (emang dasar mental cetek). Alhasil saya pasrah dan terus harap-harap cemas sembari menunggu di antrian, berharap sahabat saya masih setia menunggu selama 2 jam di arrival gate.

Setelah kurang lebih 30 menit mengantri, akhirnya saya berhasil lolos dari gerbang imigrasi, begitu keluar gerbang, puluhan penjemput mengangkat kertas-kertas bertuliskan nama, berharap salah satunya nama saya, tapi tidak ada (hiks :’)). Saya mencoba untuk menyapu puluhan muka tersebut, tetapi tidak ada yang saya kenal. Akhirnya, dengan langkah gontai saya pun berjalan keluar. Namun tidak lama kemudian, dari belakang ada yang menepuk saya, “Mas Amri ya?”, dengan spontan saya menengok, alhamdulillah itu adalah wajah sahabat saya.

Beliau adalah Izhan, mahasiwa salah satu perguruan tinggi di Turki yang sedang mengambil S2 di bidang advance computer engineering. Izhan berasal dari Pontianak, berangkat dari Turki mengantongin beasiswa dari pemerintah Turki, dan bercita-bercita untuk kembali ke Pontianak  sebagai dosen untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmunya, sungguh mulia!

Oleh Mas Izhan, saya langsung disuruh untuk menukar sebagian Dolar Amerika ke Turkish Lira (TL), kenapa sebagian? Karena rate di bandara kurang bagus, nanti sisanya bisa ditukar setelah sampai di kota. Setelah itu kami membeli Istanbul Kart (IK), sebuah all-in-one-transportation-card seharga 6 TL (1 TL = 5000 IDR), IK ini dapat digunakan untuk semua moda transportasi di Istanbul, mulai dari tram (kereta), bus, ferry, dan metro (kereta bawah tanah). Cara kerja IK ini sama dengan busway, hanya saja terdapat perbedaan dari segi benefitnya. Kalau busway, anda hanya perlu bayar satu kali untuk sampai ke tujuan, termasuk transit. Nah kalau IK, anda harus membayar, bahkan saat transit, namun tarifnya progressif, jika masih dalam satu jam maka anda membayar 2.15, 1.8, dan seterusnya, jika sudah lewat satu jam, maka tarif kembali seperti semula.

Saya dengan Mas Izhan melanjutkan perjalanan dari bandara Sabiha Gokcen ke Uskudar dengan bus, di bus kita banyak ngobrol tentang Turki, baik dari segi budaya maupun pemerintahaan saat ini. Sesampainya di Uskurdar, udara dingin menerpa kami yang sedang berjalan di sisi selat Bosphorus. Kondisi Istanbul sudah sepi, karena sudah pukul 23.00 dan kami harus bergegas karena semua moda transportasi berhenti pada pukul 24.00. Kami pun berjalan sekitar lima ratus meter untuk naik Marmaray (Metro bawah laut, literally, bawah laut! keren ya!) karena kapal ferry sudah tidak beroperasi, setelah sekitar 10 menit, saya pun sudah tiba di benua Eropa (yeah!) dan kembali melanjutkan perjalanan menaiki tram. Akhirnya kami tiba di apartemen pukul 01.00 waktu setempat dengan kondisi lemah, lesu dan lunglai, juga bersyukur mengingat Tram yang kami naiki adalah tram satu sebelum terakhir. Terbayang jika Allah tidak mempertemukan saya dengan mas Izhan, saya mungkin sudah tidur di musholla bandara malam itu.

Suasana malam di Uskurdar
Suasana malam di Uskudar

 

Day One: Pitch, Start!

Kami berangkat pagi-pagi sekali, ditemani Mas Izhan, kita menaiki tram menuju Osman Bey, lalu dilanjut dengan jalan kaki menuju lokasi acara. Sesampainya di tempat, kami menyadari sesuatu hal: kami salah tempat! Jam saat itu menunjukkan pukul 08.30 dan acara sudah dimulai. Kami segera ubah arah, dan meluncur ke jalan yang benar.

Selang satu jam berikutnya, kami sudah sampai di daerah Levent, ternyata setelah tanya sana sini, lokasi ini pun bukan venue-nya. Akhirnya setelah hampir putus asa, kami pun menghubungi panitia untuk mendapatkan lokasi GPS yang lebih akurat. Usut punya usut, sepertinya Microsoft belum meng-update lokasi kantornya yang baru, sehingga Gmaps masih mengarah ke kantor yang lama. Alhamdulillah, setelah 10 menit naik taksi, kita pun tiba di lokasi, dan langsung menuju meja registrasi (sing……….~ ~ ~).

Lanjut lagi nanti di Bagian 2 ya. :) Disini

Andika Amri

Andika Amri

Hello, my name is Andika Amri, just graduated from faculty of computer science Universitas Indonesia. I have a 3 years experience in web development and ux design. I'm also interested in hiking, basketball, and books about politics, inspiring story, islamic religion and life motivation. Now I'm currently signed up my self in PT Badr Interactive, an IT service company for mobile and web apps.
Andika Amri