BLOG POSTS

27 April 2015

shutterstock_272506730

Apa Nilai Tambah Bisnis IT Kita?

Salah satu hobi saya waktu SD adalah menggambar. Mulai dari menggambar pemandangan karena tugas sekolah, sampai menggambar tokoh-tokoh kartun tertentu. Dari hobi menggambar ini, saya terpikir untuk mengkomersilkannya, jadilah saya menjual gambar-gambar yang saya buat ke teman-teman saya. Saat itu motivasinya bukan karena tuntutan ekonomi, apalagi obsesi jadi pelukis. Hal yang menjadi motivasi saat itu hanya karena saya senang jika saya bisa menghasilkan sesuatu. Gambar-gambar yang saya buat, saya jual dengan kisaran harga Rp 50 – Rp 100, dan cukup banyak teman-teman saya yang mau membelinya 😀

Suatu kali, saya terpikir untuk membingkai gambar yang saya buat dengan bingkai yang terbuat dari kardus karena saya pikir jika gambar tersebut dibingkai akan terlihat lebih keren (walaupun hanya bingkai kardus). Setelah gambar yang saya buat selesai dibingkai dengan kardus, saya iseng menjualnya ke kakak saya, dan ternyata harga jualnya bisa naik berkali lipat karena saat itu gambar saya berhasil terjual dengan harga Rp 500. Wah, saya bisa jadi miliarder cilik nih, hehe.

Kenapa gambar yang saya bingkai bisa memiliki harga yang lebih tinggi? Karena ada nilai tambah di sana. Meskipun biaya untuk membingkai tidak seberapa, tapi dampak yang dihasilkan bisa memiliki nilai lebih tinggi dari biaya pembuatannya. Mungkin dengan bingkai gambarnya jadi terlihat lebih profesional dan seseorang yang melihatnya tidak lagi menghitung berapa biaya membuat bingkainya, yang dilihat hanya hasil akhirnya yang lebih keren sehingga pantas untuk dipilih dan dihargai tinggi.

Dalam bisnis IT, atau bisnis yang menggunakan IT sebagai tools utamanya tentu kita juga harus memikirkan nilai tambah bisnis kita karena ini yang akan menjadi pembeda kita dengan rekan-rekan kita yang berkecimpung dalam bidang yang sama. Nilai tambah bisa berupa kecepatan akses (misalkan untuk website), design, fitur pembeda, atau bisa juga berupa nilai tambah sosial dari bisnis kita.

Setiap toko punya cara tersendiri untuk memikat orang berkunjung ke tokonya, bisa dengan memasang papan judul yang besar atau mendesain tokonya sehingga terlihat unik.

Jika bisnis kita berupa bisnis yang menjadikan IT sebagai tools utamanya, nilai tambah apa yang akan kita berikan? Saya akan mengambil contoh berupa bisnis ecommerce. Kalau boleh dibilang, sebelum internet mewabah di dunia ini, metode jualan yang dilakukan manusia mayoritas dengan cara membuka toko di pinggir jalan. Setiap toko punya cara tersendiri untuk memikat orang berkunjung ke tokonya, bisa dengan memasang papan judul yang besar atau mendesain tokonya sehingga terlihat unik. Jika toko-toko fisik ini dikonversikan dalam bentuk digital (dalam sebuah website), tentu ada metode-metode lain yang juga harus dibuat untuk memunculkan nilai tambahnya.

Saya tidak akan membahas secara mendetail metode untuk memunculkan nilai tambah dalam produk IT kita apa saja. Tapi saya hanya ingin mengajak kita membayangkan jika kita datang ke sebuah toko dan nyaman ketika berada di dalam toko tersebut, serta nyaman karena mendapatkan pelayanan yang nyaman, bagaimana kita bisa mengonversi nilai-nilai itu ke dalam website ecommerce kita? Dalam website, tentu kita tidak bisa memunculkan pelayan yang selalu tersenyum dan memberikan panduan yang menyenangkan untuk berbelanja, tapi kita bisa membuat website kita memiliki UX yang baik sehingga pengunjung yang datang ke website kita dapat dengan mudah dan nyaman menelusuri halaman-halaman dalam website kita. Jadi, dalam memunculkan nilai tambah tersebut, kita bisa saja melihat toko-toko fisik yang sudah berdiri dan mengonversi satu per satu nilainya dalam website kita (tapi mungkin tidak semua nilai bisa dikonversi) agar website kita tidak hanya sekedar menjadi tempat untuk showcase produk-produk jualan.

Jika bisnis IT kita berupa layanan jasa membuat produk IT nilai tambah apa yang akan kita berikan? Beberapa lulusan IT mungkin menganggap menjalankan bisnis seperti ini mudah, tinggal kumpulkan rekan-rekan dengan background pendidikan yang sama, kemudian dirikan PT untuk legalitasnya. Namun, jika bisnis yang mereka buat hanya bertujuan untuk membuat produk IT yang sesuai dengan kebutuhan dan permintaan dari klien, maka apa bedanya bisnis mereka dengan yang dilakukan oleh para freelancer?

Menjalankan bisnis seperti ini tidak hanya sekedar menghasilkan produk IT tapi ada proses-proses yang dilalui mulai dari pertemuan pertama dengan calon klien sampai pengakhiran proyek. Dalam proses-proses tersebut, banyak nilai tambah yang bisa kita tambahkan di dalamnya. Misal, dalam proses requirement dengan calon klien, bagaimana metode requirement kita dapat memudahkan klien untuk menceritakan kebutuhannya? Karena harus dipahami bahwa tidak semua orang yang menginginkan sistem IT di dalam bisnisnya memiliki pemahaman IT yang baik. Contoh lainnya bisa juga dalam tahap pengembangan, seberapa mudah klien dapat mengetahui progress pembuatan produk IT-nya?

Yang jelas, dalam bisnis seperti ini, bagi saya klien tidak hanya sekedar butuh deliverable berupa produk IT yang jadi tapi mereka juga butuh kenyamanan dan kepercayaan dalam proses pengembangannya seperti halnya kita butuh adanya pelayan yang ramah dan komunikatif ketika makan di sebuah restoran.

***

Nilai tambah menjadi sesuatu yang penting sekarang ini karena konsumen / klien kita sudah terbentuk semakin cerdas. Era internet semakin memudahkan orang untuk melakukan komparasi antar satu produk dengan produk lainnya. Mereka yang punya jiwa sosial yang tinggi tentu akan lebih memilih produk yang punya nilai tambah sosial. Mereka yang mengidamkan pelayanan yang nyaman tentu akan memilih produk yang pemiliknya bisa memberikan pelayanan yang nyaman untuk dirinya meskipun dengan harga yang lebih mahal. Jadi, untuk tetap bisa bersaing di era seperti ini, mari kita temukan nilai tambah kita mulai dari sekarang.

Topan Bayu Kusuma
Topan Bayu Kusuma

Latest posts by Topan Bayu Kusuma (see all)